Suatu pinjaman non-performing adalah kredit yang ada di default atau dekat dengan berada di default. Banyak kredit menjadi bermasalah setelah berada di default untuk 3 bulan, tetapi hal ini dapat bergantung pada syarat kontrak.

“Pinjaman adalah bermasalah ketika pembayaran bunga dan pokok yang jatuh tempo dengan 90 hari atau lebih, atau setidaknya 90 hari dari pembayaran bunga telah dikapitalisasi, dibiayai atau tertunda dengan persetujuan, atau pembayaran kurang dari 90 hari jatuh tempo, tetapi ada alasan bagus lainnya untuk meragukan bahwa pembayaran akan dilakukan secara penuh “(IMF)
Pranala luar

Oleh Bank peraturan kredit non-performing definisi terdiri dari:

a real) riil lainnya milik yang yang diambil oleh pengambilalihan atau akta sebagai pengganti penyitaan,

b) kredit yang 90 hari atau lebih lewat jatuh tempo dan masih menimbulkan bunga, dan

c) pinjaman yang telah ditempatkan pada nonaccrual (yaitu, pinjaman yang bunga tidak lagi diakui dan diposting ke laporan laba rugi).

 

SUMBER:

 

http://www.answers.com/topic/non-performing-loan-npl

 

Non Performing Loan (NPL) meningkat

NPL adalah nama keren dari Kredit macet Perbankan.
Makin memburuknya perkembangan ekonomi dunia sudah dapat dipastikan berimbas pada perekonomian Indonesia yang pada gilirannya akan menimbulkan kesulitan bagi dunia usaha di Indonesia.

Wujud nyata dari kesulitan tersebut akan tercermin pada turunnya kemampuan perusahaan-perusahaan dalam membayar bunga dan pokok pinjaman sesuai schedule yang telah ditetapkan. Kondisi ini apabila berlarut-larut akan menyebabkan perusahaan dinyatakan gagal bayar (default) dan kreditnya dinyatakan macet.

Sektor-sektor usaha yang paling menderita adalah:
1. Sektor perkebunan karena turunnya harga-harga komoditas dan turunnya volume permintaan global.
2. Sektor industri yang berorientasi ekspor karena turunnya permintaan global
3. Sektor pertambangan (migas dan batubara) karena turunnya harga minyak dunia
4. Sektor properti dan industri barang-barang konsumsi karena turunnya daya beli masyarakat.

Berikut ini adalah ilustrasi betapa seriusnya ancaman kredit macet.
Saat ini, lebih dari 50% kapitalisasi di sektor perkebunan (didominasi oleh perkebuanan kelapa sawit) dibiayai dengan kredit perbankan. Total kredit yang disalurkan diperkirakan sudah di atas 10% dari total kredit yang disalurkan secara nasional.
Dengan tingkat bunga pinjaman yang berlaku saat ini, beban bunga pinjaman telah mengambil porsi hampir 50% dari hasil (pendapatan) kotornya. Akibatnya, sudah ada beberapa nasabah yang gagal mengangsur pokok pinjamannya.
Bank Mandiri beberapa hari yang lalu telah melakukan restrukturisasi (rescheduling angsuran) portofolio kreditnya senilai Rp 3 T.

Melihat sulitnya menurunkan suku bunga kredit perbankan maka dapat diperkirakan akan terjadi gelombang kredit macet yang pada gilirannya meningkatkan lagi suku bunga kredit atau bahkan bangkrutnya perbakan nasional sebagaimana yang terjadi pada krisis keuangan 1997 yang lalu.

SUMBER:

Non Performing Loan (NPL)

Risiko kredit didefinisikan sebagai risiko yang dikaitkan dengan emungkinan kegagalan klien membayar kewajibannya atau risiko dimanadebitur tidak dapat melunasi hutangnya (Imam Gozali, 2007).

Risiko kredit dapat timbul karena beberapa hal :
a.       Adanya kemungkinan pinjaman yang diberikan oleh bank atau obligasi (surat hutang) yang dibeli oleh bank tidak terbayar,
b.      Tidak dipenuhinya kewajiban dimana bank terlibat didalamnya bisa melalui pihak lain, misalnya kegagalan memenuhi kewajiban pada kontrak derivative.
c.       Penyelesaian (settlement) dengan nilai tukar, suku bunga, dan produk derivative.
Bentuk risiko kedit yang lain adalah settlement risk yang timbul ketika dua pembayaran dengan valuta asing dilakukan pada hari yang sama, risiko ini terjadi ketika counterparty pihak lain mungkin mengalami default setelah institusi melakukan pembayaran. Pada hari penyelesaian (settlement), besarnya kerugian default counter party (pihak lain) sama dengan nilai penuh yang harus dibayar. Sedangkan besarnya exposure sebelum settlement hanya sebesar nilai netto dari kedua pembayaran tersebut.

Menurut Muburoh (2004) NPL berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan. Semakin tinggi NPL maka semakin menurun kinerja atau profitabilitas perbankan. Hal ini sejalan dengan (Limpaphayom dan Polwitoon, 2004) dimana adanya kredit bermasalah yang semakin besar dibandingkan dengan aktiva produktifnya dapat mengakibatkan kesempatan untuk memperoleh pendapatan (income) dari kredit yang diberikan, sehingga mengurangi laba dan berpengaruh buruk pada rentabilitas (profitabilitas) bank. Agar kinerja berapor biru, maka setiap bank harus menjaga NPL-nya di bawah 5%. Hal ini sejalan dengan ketentuan bank Indonesia.

SUMBER :