Tinjauan Literatur
Kompetensi Wirausaha
Wirausaha adalah individu yang mempunyai kharakteristik yang unik dan khusus, yang dapat menjadi dasar dalam
menganalisis, mendapatkan, ataupun menciptakan peluang baru dan sekaligus keunggulan bersaing (Alvarez &
Busenitz, 2001; Littunen, 2000). Alvarez dan Busenitz (2001) berpendapat bahwa sumber yang unik dari seseorang
wirausaha tersebut merupakan kekuatan utama bagi perusahaan untuk menciptakan keluaran yang mempunyai sifat
kepelbagaian (heterogeneity) sehingga perusahaan mempunyai keunggulan bersaing.
Kompetensi berasal dari perkataan Latin “competentia” yang akan wujud apabila ada persetujuan atau kesesuaian
antara pengetahuan khusus yang dimiliki dengan tugas spesifik yang harus dikerjakan (Krogh & Ross, 1995).
Kompetensi sangat penting bagi pembangunan keunggulan bersaing dan merupakan awal dari pelbagai sumber
yang menyokong keunggulan bersaing (Krogh & Ross, 1995). Tanpa kompetensi dari manajer perusahaan dalam
menggabungkan sumber-sumber yang dapat dikendalikan maka keunggulan bersaing tidak akan dapat diwujudkan.
Pembentukan kompetensi dapat dilihat dari dua faktor, iaitu kamampuan budaya dan kemampuan fungsian (Hall,
1993). Kemampuan budaya adalah sesuatu yang dapat menghasilkan keunggulan bersaing, yang dihasilkan dari
kebiasaan, sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dipunyai oleh seseorang atau organisasi. Kemampuan fungsian
merupakan kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang khusus, yang dihasilkan dari pengetahuan, keterampilan,
dan pengalaman kerja.
Andrews (1980) mendefinisikan nilai sebagai pandangan hidup dan mempertimbangkan sesuatu perkara yang baik.
Freeman, Gilbet, dan Hartman (1988) berpendapat bahwa nilai menjelaskan tindakan yang ingin dilakukan oleh
seseorang atau sekumpulan orang. Penelitian ini memberikan fokus kepada dua nilai kepribadian dari wirausaha
iaitu lokus pengawasan dan keinginan berprestasi. Hal ini disebabkan karena kedua nilai kepribadian ini
mempunyai pengaruh kuat terhadap perilaku individu dalam sesuatu organisasi (Ahmad, 1998; Miller & Toulouse,
1986a) dan juga nilai kepribadian utama wirausaha (Curningham & Lischeron, 1991; Low & MacMilan, 1988).
Seseorang wirausaha mempunyai lokus pengawasan internal dan keinginan berprestasi yang lebih tinggi
dibandingkan bukan wirausaha (Kaufmann, Wels, & Bushmarin, 1995; Miner, 2000; Pandey & Tewary, 1979).
Sekalipun terdapat beberapa nilai kepribadian wirausaha yang lain, namun Miller dan Toulouse (1986a)
menyatakan bahwa pengaruh kedua nilai kepribadian ini terhadap perilaku organisasi mempunyai persamaan dan
perbezaan. Oleh sebab itu, penelitian ini mencoba mengkaji pengaruh kedua nilai kepribadian ini terhadap
penggunaan informasi akuntansi secara serentak.
Kompetensi seseorang wirausaha juga harus disokong oleh pengetahuan yang bersesuaian. Salah satu bidang
pengetahuan yang diperlukan oleh semua jenis usaha ialah pengetahuan akuntansi. Setiap organisasi memerlukan
seseorang yang memiliki pengetahuan dalam bidang akuntansi, sehingga mampu menggunakan informasi akuntansi
untuk membuat keputusan keuangan yang rasional. Dengan demikian, pengukuran kompetensi dalam penelitian ini
akan dilakukan berdasarkan lokus pengawasan, keinginan berprestasi, dan pengetahuan akuntansi yang dimiliki
oleh wirausaha.
Penelitian Terdahulu
Sampai saat ini belum banyak penelitian tentang pengetahuan akuntansi, dan beberapa diantaranya menggunakan
teori rasional saja untuk mengetahui pengetahuan akuntansi seseorang. Peacock (1985) menyimpulkan bahwa
rendahnya pengetahuan akuntansi dari pemilik perusahaan menyebabkan banyak usaha kecil yang mengalami
kegagalan. Wichman (1984) menyatakan bahwa permasalahan dalam penerapan akuntansi terjadi karena rendahnya
pengetahuan akuntansi yang dimiliki manajer usaha kecil. Hal ini juga didukung oleh Rocha dan Khan (1985) serta
Larson dan Clute (1979). Berbanding dengan bidang manajemen lainnya, penerapan akuntansi merupakan
rekomendasi yang banyak diberikan untuk mengatasi masalah yang dihadapi usaha kecil tersebut (Rocha & Khan,
1985). Temuan ini juga disokong oleh Peacock (1985). Holmes dan Nicholls (1988, 1989) berpendapat bahwa
pengetahuan pimpinan yang rendah menyebabkan banyak usaha kecil menggunakan jasa Akuntansi Publik dalam
penyediaan informasi akuntansi.
2
Analisis konsepsual Zmud (1979) menunjukkan bahwa lokus pengawasan dan keinginan berprestasi dapat
mempengaruhi perancangan dan implementasi sistem informasi manajemen. Sedangkan penelitian yang dilakukan
oleh Rahman dan McCosh (1976), menyimpulkan bahwa keinginan berpretasi dan pengetahuan khusus yang
dimiliki seseorang akan mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi dalam pengambilan keputusan.
Penelitian yang dijalankan pada tahun 90-an memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda dari penelitian yang
dilakukan pada tahun 80-an. Palmer dan Palmer (1996), dan juga Palmer dan Hot (1995) mendapati bahwa terjadi
perbedaan prestasi di antara perusahaan yang mengimplementasikan dengan tidak mengimplementasikan akuntansi
dalam operasi perusahaan. Perkara yang sama juga disokong oleh Acar (1993), akuntansi merupakan salah satu
variabel yang mempengaruhi prestasi usaha kecil. Di samping itu, McMahoon (2001) juga menyimpulkan bahwa
usaha skala menengah lebih banyak menggunakan informasi akuntansi dalam pengambilan keputusan berbanding
dengan usaha kecil.

Kerangka dan Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori sumber dasar dan pembahasan di atas, maka karangka penelitian ini adalah:

Pernyataan Hipotesis
Berdasarkan kerangka penelitian dan tinjauan literatur di atas, dapat rumusan hipotesis sebagai berikut:
1. Kompetensi wirausaha mempunyai pengaruh positif terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam
membuat keputusan harga jual
2. Penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual mempunyai pengaruh positif
terhadap prestasi perusahaan.
3. Penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual merupakan variabel mediating
terhadap hubungan antara kompetensi wirausaha dengan prestasi perusahaan
Metode Penelitian
Populasi dan Sampel
Ukuran perusahaan skala menengah yang digunakan dalam penelitian ini mengacu kepada usulan klasifikasi UKM
menurut Urata (2001). Suatu usaha akan dikategorikan skala menengah apabila mempunyai jumlah pekerja antara
51 sampai 250 orang. Pengolahan terhadap data perusahaan yang terdapat dalam Directory of Manufacturing
Firms, tahun 2001 (BPS, 2002) mendapatkan 6.848 perusahaan yang tergolong pada industri manufaktur skala
menengah. Empat propinsi yang merupakan pusat perusahaan manufaktur menengah di Indonesia adalah DKI
Jakarta, Jabar, Jatim, dan Jateng dengan jumlah perusahaan sebanyak 5.409 buah. Keempat propinsi ini
diperkirakan dapat mewakili dari industri manufaktur skala menengah di Indonesia.
Pengukuran Konstruk
a. Kompetensi Wirausaha
Pengukuran kompetensi wirausaha diukur berdasarkan tiga dimensi, yaitu keinginan berprestasi, lokus pengawasan,
dan pengetahuan akuntansi.
Keinginan berprestasi
Pengukuran konstruk keinginan berprestasi dalam penelitian ini didasarkan pada daftar pertanyaan yang
dikembangkan oleh Steers dan Braunstein (1976). Beberapa penelitian yang juga telah menggunakan pengukuran
konstruk Steers dan Braunstein ini, antara lain oleh Entrialgo, et al., (2000a), Box, White, dan Barr (1993), dan juga
Miller dan Toulouse (1986a, 1986b). Daftar pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel keinginan
– Pengetahuan Akuntansi
– Lokus Pengawasan
– Keinginan Berprestasi
Penggunaan Informasi
Akuntansi Dalam Membuat
Keputusan Harga Jual
Prestasi
Perusahaan
3
berprestasi tersebut terdiri dari lima pertanyaan. Pengukuran akan dilakukan dengan menggunakan skala likert,
yaitu 1 sampai 7.
Lokus pengawasan
Lumpkin (1985) telah memodifikasi pengukuran konstruk lokus pengawasan yang digunakan Rotter (1966).
Pengukuran konstruk yang dimodifikasi oleh Lumpkin (1985) ini juga telah digunakan oleh beberapa peneliti.
Antara lainnya ialah Entrialgo, et al., (2000), dan Box, et al., (1993). Oleh sebab itu, penelitian ini akan
menggunakan daftar pertanyaan yang telah disesuaikan oleh Lumpkin (1985) ini sebagai dasar pengukuran lokus
pengawasan.
Pengukuran lokus pengawasan dilakukan dengan menggunakan enam pertanyaan, yang terdiri dari tiga pertanyaan
berkenaan dengan sifat lokus pengawasan internal yang tinggi dan tiga pertanyaan lainnya berkenaan dengan sifat
lokus pengawasan internal yang rendah. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala likert, yaitu 1 sampai 7.
Pengetahuan akuntansi
Pengukuran konstruk pengetahuan akuntansi didasarkan pada konstruk yang biasanya digunakan dalam penelitian
audit. Spliker (1995), Bonner dan Walker (1994) menggunakan dua dimensi untuk pengukuran pengetahuan
akuntansi, iaitu dimensi pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Terdapat 8 pertanyaan yang berkenaan
dengan pengetahuan deklaratif, dan 5 pertanyaan untuk pengetahuan prosedural. Setiap pertanyaan diberi 5 pilihan
jawaban tetapi hanya satu jawaban yang benar.
b. Penggunaan informasi akuntansi
Penelitian ini mendefinisikan informasi akuntansi sebagai informasi statutori, informasi anggaran, dan informasi
tambahan yang dihasilkan dari proses akuntansi dan digunakan sebagai dasar dalam membuat keputusan. Informasi
statutori terdiri dari Neraca, Laporan laba/rugi, dan Arus Kas. Informasi anggaran terdiri dari informasi Anggaran
Laba Rugi, dan Anggaran Arus Kas. Dalam penelitian ini informasi tambahan terdiri dari informasi Laporan harga
pokok produksi dan rasio Keuangan (Holmes & Nicholls, 1989).
Pengukuran penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan didasarkan rata-rata tertimbang (weighted
average), antara banyaknya dengan pentingnya penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan sebagai
penimbang. Dengan demikian setiap jenis informasi akuntansi akan menghasilkan rata-rata tertimbang. Seterusnya
juga akan dihitung min dari rata-rata tertimbang semua jenis informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga
jual.
Pengukuran banyaknya penggunaan informasi akuntansi dengan menggunakan skala likert 0 sampai 6. Pentingnya
penggunaan informasi akuntansi juga menggunakan skala likert yaitu dari 1 sampai 7.
c. Prestasi perusahaan
Murphy, Trailer, dan Hill. (1996) melakukan tinjauan literatur terhadap lima puluh dua penelitian empirikal
kewirausahaan. Dari tinjauan literatur tersebut, diperoleh lima ukuran prestasi yang banyak digunakan, yaitu
pertumbuhan penjualan, profit margin, ROI, ROE, dan ROA. Oleh sebab itu, penelitian ini akan menggunakan tiga
dari lima peringkat ukuran prestasi tersebut, yaitu pertumbuhan penjualan, profit margin, dan ROA, yang diperoleh
perusahaan dalam tiga tahun terakhir. Untuk mendapatkan ukuran prestasi perusahaan secara keseluruhan akan
digunakan rata-rata dari ketiga ukuran prestasi tersebut dan diberi nama prestasi kewangan, sebagaimana juga telah
digunakan oleh Boone, Brabader, dan Witteloostuijn, (1996).
Metode Analisis
Penelitian ini akan menggunakan beberapa metode analisis statistik untuk membantu dalam menganalisis data dan
ujian terhadap hipotesis yang dibuat. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah Analisis Faktor, Analisis
Realibility, dan Analisis Regresi.
Penemuan

Profil Responden
Analisis penelitian ini didasarkan kepada 206 kuestioner yang telah dijawab oleh pimpinan yang juga adalah
pemilik perusahaan. Lokasi perusahaan manufaktur sampel penelitian ini tersebar di empat propinsi yaitu di Jabar
(45,1%), Jateng (23,8%), Jatim (209%), dan DKI Jakarta sebanyak 10,2 persen. Sebagian besar dari perusahaan
sampel penelitian ini adalah perusahaan Perseroan Terbatas (65,0%). Lebih dari lima puluh persen (51.9%) dari
sampel penelitian ini mempunyai jumlah pekerja 50 sampai 100 orang, dan sebagian besar memiliki jumlah
penjualan maksimum sebesar Rp 15 milyar (51.0%).
Pemilik yang juga pimpinan perusahaan dalam penelitian ini umumnya adalah lelaki (89.8%), di mana pimpinan
yang termuda berumur 24 tahun dan tertua berumur 77 tahun. Umumnya pempinan perusahaan berumur lebih dari
40 tahun, di mana yang berumur 40 – 50 tahun sebanyak 46.6% dan yang berumur lebih dari 50 tahun adalah
36.4%.
Kebanyakan pendidikan pimpinan perusahaan adalah tamatan SMU (40.3%) dan Universitas (37.9%).
Bagaimanapun di antara pimpinan perusahaan tersebut tidak banyak yang mendapatkan kursus akuntansi, yakni
sebanyak 96 orang saja. Dari pimpinan yang memperoleh kursus akuntansi umumnya juga dengan waktu yang
terbatas. Namun demikian, kebanyakan dari pimpinan perusahaan tersebut telah memimpin lebih dari 10 tahun
(70.4%).
Kebaikan Pengukuran (goodfitness of fit)
Analisis kebaikan pengukuran terhadap variabel penelitian utama dilakukan dengan menggunakan metode analisis
faktor dan reliabiliti. Analisis dapat dilakukan terhadap nilai-nilai kepribadian wirausaha dan penggunaan informasi
akuntansi.
Dari 11 pertanyaan untuk mengukur nilai-nilai kepribadian wirausaha telah dihasilkan dua faktor yang masingmasingnya
dengan 5 item atau pertanyaan dan dapat diberi nama lokus pengawasan dan keinginan berprestasi,
dengan KMO 0,724 dan realibility sebesar 0,787 untuk lokus pengawasan dan 0,767 untuk keinginan berprestasi.
Hasil analisis faktor yang dijalankan terhadap banyaknya dan pentingnya penggunaan informasi akuntansi
menunjukkan bahwa masing-masingnya mendapatkan satu faktor saja, dengan KMO dan juga Alpha Cronbach
yang cukup tinggi.
Hasil pengolahan data tentang banyaknya dengan pentingnya penggunaan informasi akuntansi dengan
menggunakan metode rata-rata tertimbang mendapatkan variabel yang merupakan fokus utama penelitian ini, yaitu
penggunaan informasi untuk keputusan harga jual.

Pengujian Hipotesis
Pengaruh Kompetensi Wirausaha Terhadap Penggunaan Informasi Akuntansi
Hipotesis yang diuji berbunyi bahwa kompetensi wirausaha mempunyai hubungan positif dengan penggunaan
informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual. Ringkasan analisis regresi dengan menggunakan SPSS
dapat dilihat pada Tabel 2. Model yang digunakan dapat menjelaskan secara signifikan pengaruh positif dari
kompetensi wirausaha terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual (R² =
0,161, F = 12,957, nilai p = 0,01). Ini berarti bahwa 16,1 persen perubahan terhadap penggunaan informasi
akuntansi dalam membuat keputusan harga jual dapat dijelaskan oleh kompetensi wirausaha. Tabel 2 juga
menunjukkan pengaruh masing-masing dimensi kompetensi wirausaha, yaitu lokus pengawasan, keinginan
berprestasi, dan pengetahuan akuntansi yang memberikan pengaruh positif terhadap penggunaan informasi
akuntansi dalam membuat keputusan harga jual.

Pengaruh Penggunaan Informasi Akuntansi Terhadap Prestasi Perusahaan
Hipotesis penelitian ini menyatakan bahwa penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual
mempunyai hubungan positif terhadap prestasi perusahaan. Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa penggunaan informasi
akuntansi dalam membuat keputusan harga jual mampu mempengaruhi prestasi perusahaan. Nilai R² yang
dihasilkan adalah sebesar 0,071 dan koefisien b sebesar 0,267 yang signifikan pada p = 0,01. Ini berarti bawa 7,1
persen perubahan yang terjadi terhadap prestasi perusahaan dapat dijelaskan oleh penggunaan informasi akuntansi
dalam membuat keputusan harga jual.

Penggunaan Informasi Akuntansi Sebagai Variabel Mediating
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual
merupakan variabel mediating terhadap hubungan antara nilai-nilai kepribadian wirausaha dengan prestasi
perusahaan.
Pengujian terhadap hipotesis ini dilakukan melalui beberapa tahap analisis regresi seperti yang disarankan oleh
Baron dan Kenny (1986), dan diperkukuh oleh Ndubisi, Jantan, dan Richardson (2001). Tahapan analisis yang
dijalankan adalah (i) meregres nilai-nilai kepribadian terhadap penggunaan informasi akuntansi dalam membuat
keputusan, (ii) meregres penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan terhadap prestasi perusahaan,
(iii) meregres nilai-nilai kepribadian terhadap prestasi perusahaan, dan (iv) meregres nilai-nilai kepribadian, dan
penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan terhadap prestasi perusahaan.
Apabila terjadi penurunan koefisien b dari variabel nilai-nilai kepribadian pada model keempat berbanding model
ketiga, berarti penggunaan informasi dalam membuat keputusan tersebut adalah variabel mediating parsial (Baron
& Kenny, 1986). Variabel mediating penuh akan terjadi apabila penurunan koefisien regresi pada model keempat
sampai nol (Ndubisi et al., 2001).
Pengujian terhadap model pertama dan kedua telah dijalankan, dan telah dibahas pada bagian terdahulu. Secara
keseluruhan model pertama dan kedua dapat menjelaskan varians dari penggunaan informasi akuntansi dalam
membuat keputusan harga jual dan juga terhadap prestasi perusahaan. Pengujian model ketiga dan model keempat
dijalankan secara bersama-sama dengan menggunakan analisis regresi bertingkat (hirarchical regression).
Ringkasan hasil analisis regresi berkenaan dengan analisis penggunaan informasi akuntansi untuk membuat
keputusan sebagai variabel mediating dapat dilihat pada Tabel 4.

Pembahasan
Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya bahwa tidak ada penelitian terdahulu yang
menggunakan teori sumber dasar sebagai dasar pengembangan penelitian akuntansi. Oleh sebab itu,
adalah sukar membandingkan hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu. Namun demikian
pembahasan juga dapat dibuat berdasarkan keputusan penelitian ini saja dan juga penelitian yang hampir
sama. Penelitian terdahulu yang banyak menggunakan teori sumber dasar adalah penelitian di bidang
manajemen strategi yang memang banyak menggunakan teori sumber dasar dalam pengembangan
karangka penelitian.
Nilai kepribadian dan pengetahuan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi cara mereka berfikir dan
menilai lingkungan usaha yang dihadapi. Nilai kepribadian wirausaha yang tinggi seperti lokus
pengawasan internal dan keperluan berprestasi yang tinggi, cendrung memilih cara bersaing yang
berbeda, termasuk dalam penggunaan informasi akuntansi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai
kepribadian dan pengetahuan akuntansi dari wirausaha mempunyai pengaruh positif terhadap penggunaan
informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual.
Rumusan penelitian Rahman dan McCosh (1976) berbeda dengan hasil penelitian ini. Rahman dan
McCosh mendapatkan bahwa seseorang yang mempunyai pengetahuan dan keinginan berprestasi yang
tinggi akan lebih sedikit dalam menggunakan informasi akuntansi, khususnya dalam penilaian prestasi
bawahan. Hal ini disebabkan seseorang yang memiliki keinginan berprestasi yang tinggi selalu berupaya
untuk mencari cara baru dan lebih baik, dia tidak mau hanya menggunakan informasi akuntansi saja tetapi
juga informasi bukan akuntansi, kerana kombinasi kedua ukuran ini dapat memberikan hasil penilaian
prestasi yang lebih baik sesuai dengan konsep Balance Scorecard (Sim & Koh, 2001). Temuan penelitian
menyokong rumusan konsepsual yang dibuat Zmud (1979), di mana lokus pengawasan dan keinginan
berprestasi akan mempengaruhi perancangan dan implementasi sistem informasi manajemen.
Penemuan ini juga menyokong rumusan penelitian terdahulu, yang menyatakan bahwa salah satu
penyebab rendahnya penggunaan akuntansi dalam usaha kecil ialah karena rendahnya pengetahuan
akuntansi yang dimiliki oleh pimpinan perusahaan (Benjamin, 1989; Holmes & Nicholls, 1988; Peacock,
1985; Rocha & Khan, 1985; Palmer & Palmer, 1996; Wichman, 1984). Analisis konsepsual yang
dijalankan oleh Zmud (1979) juga merumuskan bahawa kepintaran dan pengetahuan khusus yang dimiliki
oleh seseorang akan mempengaruhi perancangan dan implementasi sistem informasi manajemen.
Penelitian dalam bidang strategi yang menyokong hubungan antara lokus pengawasan dan keinginan
berprestasi dengan strategi yang dijalankan antara lain oleh Entrialgo, et al., (2000), Kotey dan Meredith
(1997), serta Miller dan Toulouse (1986a).
8
Penemuan ini juga sejalan dengan rumusan dari beberapa penelitian terdahulu, khususnya terhadap usaha
kecil dan menengah, bahwa penggunaan informasi akuntansi akan mempengaruhi kesuksesan perusahaan
(McMahon, 2001; Acar, 1993). Beberapa penelitian yang menggunakan analisis deskriptif juga membuat
rumusan yang sama, di mana informasi akuntansi merupakan faktor penting untuk mencapai kesuksesan
(Palmer & Palmer, 1996; Palmer & Hott, 1995; Benjamin, 1989; Peacock, 1985; Rocha & Khan, 1985;
Wichman, 1984).
Untuk mencapai kesuksesan, seseorang yang mempunyai kompetensi wirausaha yang tinggi akan
membuat tindakan yang dapat mandatangkan kesuksesan. Oleh sebab itu, pengaruh kompetensi wirausaha
terhadap prestasi tidak hanya secara langsung tetapi juga secara tidak langsung. Hal ini dapat ditunjukkan
dalam penelitian ini, di mana hubungan antara kompetensi wirausaha dengan prestasi perusahaan akan
dimediating oleh penggunaan informasi akuntansi dalam membuat keputusan harga jual.
Penelitian dalam bidang manajemen strategi yang dapat menyokong penemuan ini adalah penelitian yang
dijalankan oleh Entrialgo. et al., (2000), Boone, et al., (1996), dan Nwachukwu (1995). Entrialgo, et al.
(2000) menyimpulkan bahwa hubungan antara lokus pengawasan dan keinginan berprestasi dengan
prestasi akan dimediating oleh strategi yang digunakan. Boone, et al. (1996) yang menjalankan penelitian
terhadap industri kecil mendapatkan bahwa strategi perbedaan merupakan variabel mediating antara lokus
pengawasan dengan prestasi organisasi. Penelitian Nwachukwu (1995) juga dijalankan terhadap usaha
kecil dan menyimpulkan bahwa lokus pengawasan mempengaruhi prestasi perusahaan melalui strategi
perbedaan.\

 

SUMBER INI DARI : http://www.pdf-searcher.com/…/penggunaan-akuntansidalam-usaha-kecil.html

DAN http://www.linkpdf.com/…/peranan-akuntansi-dalalm-pengembangan-industrikecil-.pdf