Nasionalisme Putih Ala Aktivis Mahasiswa

Aksi aktivis mahasiswa Solo kali ini memang cukup unik. Para aktivis mengenakan baju serba putih. Salah satu di antaranya ada yang mengenakan sarung melakukan long march mulai dari Kampus II UNS Mesen menuju Bundaran Gladak.
Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), para aktivis yang tergabung dalam Forum Besar (Forbes) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS menggelar aksinya dengan cara yang tak lazim.
Berbagai atribut dan bendera BEM UNS ikut mewarnai kemeriahan aksi mahasiswa. Meski langkah mereka agak terganggu dengan sarung yang dikenakan, mereka tetap saja berjalan cukup cepat, layaknya demonstran yang garang turun ke jalan. Terlebih ketika mengusung keranda, beberapa kali salah seorang mahasiswa harus menarik kain sarungnya sedikit di atas mata kaki.
Ada semangat nasionalisme yang mereka bawa dalam aksi memperingati Harkitnas 2010 ini. Peluh yang mulai mengucur dari wajah tak menggugurkan semangat mereka dalam menyuarakan aspirasinya.
Nuansa putih yang diusung tersebut tak begitu saja muncul. Warna putih yang dikenakan juga mengandung simbol optimisme mahasiswa akan penyelesaian segenap permasalahan yang membelit Indonesia. “Putih ini melambangkan optimisme kami dalam penyelesaian semua permasalahan yang ada. Kami juga ingin memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk bertobat atas kesalahan yang telah dilakukan. Kami mewujudkan dalam bentuk keranda,” terang Menteri Luar Negeri BEM UNS, Wakhid Nur Hidayat kepada wartawan, Kamis (20/5).
Tak hanya itu, dalam aksi itu terlontar juga pernyataan yang menyadarkan kita bahwa perlu introspeksi diri. “75 persen penyadaran terhadap kesalahan itu muncul dari diri sendiri. Sedangkan sisanya yang 25 persen diperoleh dari orang lain,” tuturnya.
Meski tobat adalah inti dari kegiatan itu, layaknya sebuah aksi, para demonstran juga menyampaikan Tujuh Gugatan Rakyat (Tugu). “Tingkatkan nasionalisasi, berikan pelayanan kesehatan dan pendidikan, tegakkan supremasi hukum, pastikan kedaulatan rakyat, berikan jaminan ketersediaan pangan, lakukan reformasi birokrasi, dan mengganti kerugian dampak lumpur Lapindo,” tegasnya.

SUMBER : http://harianjoglosemar.com/berita/nasionalisme-putih-ala-aktivis-mahasiswa-15866.html

Peran pemuda dalam nasionalisme masih kah membara ?

Das alte sturzt,es andert sich die zeit,und reus leben bluht aus den ruinen,seid eining-eing-eining (Yang Lama Sedang Ambruk,Jaman Sedang Berubah,Kehidupan Baru Sedang Berkembang Di Atas Puing). Bersatulah-Bersatulah-Bersatulah.

Mungkin memang benar bila di katakan tahun ini merupakan tahun akbar bagi suatu tekad bulat nasionalisme Indonesia yang seratus tahun telah berlalu memunculkan semangat kebangsaan yang tinggi dan jaman yang terus bertata diri seperti di kutip dari Bung Hatta, Maka”jaman sedang berubah,yang lama sedang ambruk,yang baru sedang berkembang di atas puing-puing “ Ambruk disini tidak dalam arti negative,melainkan berubah secara dinamis. Betapa tidak, Adakalanya tersendat-sendat,adakalanya lurus,adakalanya berbelok-belok,adakalanya secara peaceful dan evolusioner dengan damai adakalanya secara violent dan revolusioner dengan kekerasan.

Memang itulah hakiki pertumbuhan sejarah kepemudaan: seperti halnya hakikinya dinamika pertumbuhan social dalam alam semestanya ini. tetapi apa yang “lama” dan “tua” itu tidak akan hilang begitu saja,tanpa bekas. Dan apa yang baru dan muda tidak akan tumbuh di atas kekosongan atau di atas vacuum.Tidak! malahan jaman lama membekali jaman baru. Dan jaman baru mau tidak mau memikul warisan jaman lama.dan lebih dari itu.

Sebuah Pencarian Seratus Tahun Jiwa Pemuda

Tidak dapat di sangkal,bahwa di mana-mana angkatan muda mempunyai peranan yang penting sekali dalam sejarah pergerakan nasional. Lebih dari itu, Peran pemuda antara 15 sampai sekitar 25 tahun menumbuhkan dalam jiwanya idealisme, romantisme, dan heroisme. Hal ini membawa dan mengembarakan fisiknya penuh dengan dinamika.

Jelas begitu pentingnya peranan pemuda dalam kebangkitan nasional,mengingat Pemuda dan idealisme merupakan suatu kaitan kesatuan yang tak dapat di pisah-pisahkan sehingga jiwa yang membara tersebut terus bergelora.

Peranan Angkatan Muda Indonesia.

Menengok fakta-fakta sejarah yang tak dapat di pungkiri,bahwa pergerakan kemerdekaan nasional indonesia modern melawan kolonialisme digerakan dan dipelopori oleh kaum muda. Kartini sewaktu menyuarakan Cri De Coueurnya (Jeritan Hati Nuraninya) pada tahun 1900-an melawan feudalisme dan kolonialisme,berusia 20 tahunan. Hal itulah yang dilakukan Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo beserta kawan-kawannya mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 mereka semua berusia 20-25 tahunan. Begitu mempesonakan peranan pemuda kita dalam masa revolusi hingga era 1945. Sehingga Ben Anderson dalam Java In A Time Of Revolution, Occupation And Resisten 1944-1946 menyatakan bahwa pemudalah yang memegang peranan sentral dalam pecahnya revolusi kita dulu itu dan bukan kaum inteligensia yang terasing,dan juga bukan kelas-kelas yang tertindas.

Kualifikasi Ben Anderson tentang “Peranan Sentra” para pemuda kita itu perlu kiranya kita uji bersama keakuratannya sebab yang terpenting ialah jangan sampai kita melihat angkatan muda kita lepas dari masyarakat luas dan massa rakyat. melihat aktivitas dan dinamika angkatan muda lepas dari kaitannya dengan masyarakat luas dan massa rakyat dapat menilai peranan angkatan muda itu terlalu berlebih-lebihan,atau terlalu kecil. Kita akan mudah terperosok ke dalam Over-Exag-Geration atau Under Estimation. Padahal kita memerlukan penilaian tentang peranan angkatan muda kita secara wajar,tanpa membesar-besarkannya dan juga tanpa memperkecilkannya.

Menelaah Makna Kebangkitan Nasional.

Mengapa demikian,Apabila kita meneliti situasi sekitar tahun 1908,yang melahirkan jaman kebangkitan nasional maka ada dua factor yang saling mempengaruhi yaitu factor intern-domestik dan factor ekstern-luar negeri.

Kondisi tanah air kita masih dalam cengkeramannya kolonialisme Hindia-Belanda yang dengan peralatan feodalisme pribumi dapat leluasa menjalankan domonasi politik,eksploitasi politik,dan infiltrasi kebudayaan. Mungkin tepat bila Politik Pintu Terbuka atau Open Door Policy sejak tahun 1870,yang kemudian di susul dengan ethische politik sejak 1900,membuka kemungkinan timbulnya lapisan inteligensia muda di berbagai bidang demokrasi colonial. Dan mungkin memang benar,Hanya berbekal itu bercita-cita kemajuan dan kemerdekaan bagi rakyat dan bangsanya. yang merupakan salah satu factor intern-domestik bagi kebangkitan nasionalisme dan patriotisme Indonesia.

Cita-cita angkatan muda kita pada waktu itu diilhami pula oleh kejadian-kejadian di luar Negeri umpamanya saja: oleh Revolusi “Young Turks” di Turki ; oleh gerakan pembaharuan di dunia islam; oleh gerakan kebangkitan nasionalisme Arab,India,Tiongkok,Filiphina; oleh kemenangan jepang dalam peperangan melawan Czaris Rusia dan sebagainya.Akan tetapi adanya factor intern-domestik lebih memobilisasi perjuangan nasional.

Pada sekitar tahun 1908 dan pada tahun-tahun selanjutnya,sudah mulai mendewasakan karena pandai memadukan nasional yang propinsial-kultural (dari Budi Utomo dengan para pemimpinnya,Dr.Sutomo dan Dr.Gunawan Mangunkusumo,pada tahun 1908) dengan nasionalsme yang islamitis dan politis-ekonomis (dari sarekat dagang islam yang kemudian menjadi serekat islam pimpinan haji samanhudi,H.O.S.cokroaminoto,dan H.A salim,pada tahun 1911/1912) dengan nasionalisme yang islamistis dan social padagogi (dan Muhammadiyah pimpinan K.H.A. Dachlan pada tahun 1912) dan dengan nasionalisme yang militan-politis (dari indische partij di bawah pimpinan trio Dr.Cipto Mangunkusumo, Dr.Douwwes Dekker/setia budi,dan Ki Hajar Dewantara,pada tahun 1912).

Patut kiranya kita renungkan bersama sejauh mana andil para pemuda kita sekarang dalam membangun bangsa kita tercinta ini, Setelah seratus tahun membulatkan tekad akan kecintaan pada nusa dan bangsa. dan harapan kita seratus tahun ini bergejolak jiwa pemuda patriotis! Cinta akan nasionalis!!!!

SUMBER : http://fms.ormawa.uns.ac.id/2008/05/06/peran-pemuda-dalam-nasionalisme-masih-kah-membara/